10 Kiat Sukses dalam Hidup  

Monday, June 29, 2009

Berikut ini adalah sepuluh poin yang dapat mengarahkan setiap individu terhadap keberhasilan mereka dalam memilih jalan hidup. Pedoman ini memiliki kekuatan untuk keuntungan Anda - secara fisik, mental dan spiritual.

1. Sederhana dalam kehidupan.

2. Tidak hidup untuk makan, tetapi makan untuk hidup.

3. Buang kecemburuan. Komit tuk tidak fitnah. Tidak berbicara dusta. Pelabuhan tidak kedengkian. Anda akan gembira, bahagia dan damai.

4. Kebenaran adalah aturan kehidupan. Lead yang saleh hidup. Ketat sesuai dengan norma. Manusia hidup bukan manusia tanpa virtues. Belajar kehidupan orang sholeh dan mengambil inspirasi dari mereka.

5. Memperkembangtumbuhkan yang lembut hati, yang memberikan sisi, hormat sambutannya, kehidupan pelayanan, sama visi, dan sikap adil. Anda akan hidup, sesungguhnya, diberkati.

6. Lead yang diatur kehidupan. Berprinsip bahwa setiap hari sebagai hari terakhir, dan memanfaatkan setiap detik dalam doa, meditasi dan layanan. Biarlah hidup anda terus menjadi korban kepada Tuhan.

7. Hidup di hari ini. Melupakan masa lalu. Memberikan harapan masa depan.

8. Memahami dengan baik makna kehidupan, dan kemudian memulai penyelidikan.

9. Hidup adalah karunia-Mu besar. Memanfaatkan setiap detik laba.

10. Sukses sering datang kepada orang-orang yang berani dan bertindak. Ia jarang datang ke malu.

Anda semua akan mencapai kesuksesan dalam hidup!

AddThis Social Bookmark Button
Email this post


Tutup dari Yang Mahakasih  

Saturday, June 27, 2009

Saudaraku, sesungguhnya cinta dan kasih sayang Allah kepada kita sungguh melimpah. Kita tak akan pernah mampu menghitungnya. Salah satunya, Allah Azza wa Jalla memberikan dua "penutup" kepada kita. Pertama, Dia menutup peluang bagi kita untuk berbuat maksiat. Maka sungguh beruntung bila kita selalu gagal berbuat maksiat. Boleh jadi itulah pertolongan dari Allah, sehingga kita tidak tergelincir ke dalam dosa. Bila demikian, segeralah sadar. Ucapkan istighfar atas segala niat buruk yang meresapi hati kita. Sekaligus ucapkan hamdalah atas pertolongan tak terkira itu.

Kedua, Dia menutupi pandangan manusia dari melihat segala kejelekan dan aib-aib yang menempel pada diri. Boleh jadi kita terjerumus ke dalam dosa. Namun dengan kasih sayang-Nya, Allah menutupi dosa-dosa tersebut sehingga tidak terlihat orang lain. Di sinilah sebuah rahasia besar terungkap. Bahwa kita dihargai, disegani, dipuji, dan dimuliakan, bukan karena kita layak mendapatkannya, atau karena memang kita benar-benar mulia. Kita dihargai orang, lebih karena Allah menutupi setiap kesalahan dan aib-aib diri kita. Andai Allah membukakan semua kebusukan diri, tampaknya tidak ada lagi orang yang mau dekat dengan kita. Sesungguhnya, hanya Allah saja yang layak menyandang kemuliaan, pujian dan semua kebaikan. Andai kita mendapatkannya, sungguh itulah "bonus" dari Allah untuk kita.

Al-Hikam, Ibnu Atha'ilah mengungkapkan, "Siapa yang menghormati kepadamu, sebenarnya hanya menghormati tutup Allah kepadamu. Karena itu, seharusnya pujian itu hanya untuk Allah yang menutupi (kesalahan) engkau, bukan pada orang yang memuji dan berterima kasih kepadamu.

Sayangnya, kita lebih sering menginginkan ditutupi aib dan kesalahan diri, daripada ditutupi dari bermaksiat kepada Allah. Apa sebabnya? Karena takut wibawa dan citra diri kita jatuh di hadapan manusia. Bila kondisi seperti ini menghinggapi, maka kecintaan kita terhadap dunia, masih mengalahkan cinta kita kepada Allah. Susah senang kita masih ditentukan oleh penilaian manusia, bukan oleh penilaian Allah Azza wa Jalla.

Saudaraku, tidak salah jika kita meminta agar Allah menutupi segala kesalahan kita. Namun menginginkan agar dijauhkan dari maksiat tentunya lebih bernilai khusus. Keinginan jenis kedua ini akan menghindarkan kita dari menuhankan manusia. Padahal, tidak ada yang paling dibenci Allah, selain mengadakan sekutu bagi-Nya.

Simaklah kisah berikut. Kelak pada hari Kiamat ada beberapa orang yang dibawa ke surga. Namun setelah melihat segala kesenangan yang ada di dalamnya serta merasakan sedikit kesegarannya, tiba-tiba Allah memerintahkan malaikat untuk menghalau mereka dari surga. Ternyata, surga bukanlah tempat yang disediakan kepada mereka. Tempat mereka yang sebenarnya adalah neraka. Kembalilah mereka dengan keadaan amat terhina dan penuh penyesalan.

Mereka berkata, "Wahai Tuhanku, andaikan Engkau masukkan kami ke dalam neraka sebelum memperlihatkan kepada kami surga, dengan segala kenikmatan yang Engkau siapkan kepada ahlinya, niscaya akan terasa lebih ringan bagi kami." Dia berfirman, "Kami sengaja melakukan yang demikian. Sebab dahulu, jika kalian sendirian, kalian dengan bebasnya melakukan kemaksiatan. Namun jika bertemu dengan orang-orang, kalian berlagak khusyuk. Kalian takut oleh manusia, namun tidak takut kepada-Ku. Kalian mengagungkan manusia, namun tidak mengangungkan-Ku. Kalian condong kepada manusia, namun tidak condong kepada-Ku. Maka pada hari ini, rasakanlah siksa-Ku, dan diharamkan atasmu segala Rahmat-Ku."



Wallaahu a'lam.

AddThis Social Bookmark Button
Email this post


Muhasabah  

Thursday, May 14, 2009

“Wahai manusia !

Aku heran pada orang yang yakin akan kematian, tapi hidup bersuka ria.

Aku heran pada orang yang yakin akan pertanggungjawaban segala amal perbuatan di akhirat, tapi asyik mengumpulkan dan menumpuk harta.

Aku heran pada orang yang yakin akan kubur, tapi ia tertawa terbahak-bahak.

Aku heran pada orang yang yakin akan adanya alam akhirat, tapi ia menjalani hidupnya dengan bersantai-santai.

Aku heran pada orang yang yakin akan kehancuran dunia, tapi ia menggandrunginya.

Aku heran pada intelektual, yang bodoh dalam soal moral.

Aku heran pada orang yang bersuci dengan air, sementara hatinya masih tetap kotor.

Aku heran pada orang yang sibuk mencari cacat dan aib orang lain, sementara ia tidak sadar sama sekali terhadap cacat yang ada pada dirinya.

Aku heran pada orang yang yakin bahwa Allah SWT senantiasa mengawasi segala perilakunya tapi ia berbuat durjana.

Aku heran pada orang yang sadar akan kematiannya, kemudian akan tinggal dalam kubur seorang diri, lalu diminta pertanggungjawaban seluruh amal perbuatannya, tapi berharap belas kasih orang lain.

Sungguh.. tiada Tuhan kecuali Aku.. dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Ku.

Wahai manusia !

Hari demi hari usiamu kian berkurang, sementara engkau tidak pernah menyadarinya. Setiap hari Aku datangkan rejeki kepadamu, sementara engkau tidak pernah memujiKu. Dengan pemberian yang sedikit, engkau tidak pernah mau lapang dada. Dengan pemberian yang banyak, engkau tidak juga pernah merasa kenyang.

Wahai manusia !

Setiap hari Aku mendatangkan rejeki untukmu. Sementara setiap malam malaikat datang kepadaKu dengan membawa catatan perbuatan jelekmu. Engkau makan dengan lahap rejekiKu, namun engkau tidak segan-segan pula berbuat durjana kepadaKu. Aku kabulkan jika engkau memohon kepadaKu. KebaikanKu tak putus-putus mengalir untukmu. Namun sebaliknya, catatan kejelekanmu sampai kepadaKu tiada henti.

Akulah pelindung terbaik untukmu. Sedangkan engkau hamba terjelek bagiKu. Kau raup segala apa yang Kuberikan untukmu. Kututupi kejelekan yang kau perbuat secara terang-terangan.

Aku sungguh sangat malu kepadamu, sementara engkau sedikitpun tak pernah merasa malu kepadaKu. Engkau melupakan diriKu dan mengingat yang lain.

Kepada manusia engkau merasa takut, sedangkan kepadaKu engkau merasa aman-aman saja.

Pada manusia engkau takut dimarahi, tetapi pada murka-Ku engkau tak peduli.”

Ikhwan fillah, bersujudlah dan bertaubatlah kepada allah SWT serta menangislah..
betapa banyak dosa yang telah kita perbuat selama ini..
lihatlah betapa banyak kelalaian yang telah kita lakukan selama ini.

“Ya Allah,
kami bukanlah hambaMu yang pantas memasuki surga firdausMu, tidak juga kami mampu akan siksa api nerakaMu, berilah hambaMu ini ampunan, dan hapuskanlah dosa-dosa kami, sesungguhnya hanya Engkaulah Sang Maha Pengampun, Sang Maha Agung.

Ya Allah,
dosa-dosa kami seperti butiran pasir dipantai,
anugrahilah kami ampunan wahai Yang Maha Agung,
umur kami berkurang setiap hari sedangkan dosa-dosa kami terus bertambah
adakah jalan upaya bagi kami.

Ya Allah,
hambaMu yang penuh maksiat ini bersimpuh menghadapMu mengakui dosa-dosanya dan memohon kepadaMu,
ampunilah, karena hanya Engkaulah Sang Pemilik Ampunan,
bila Engkau Campakkan kami,
kepada siapa dan kemana kami mesti berharap selain dariMu”.

“Hisablah dirimu sebelum Allah menghisabmu”. (Imam Ali bin Abu Thalib RA)

AddThis Social Bookmark Button
Email this post


Tenang Dalam Setiap Masalah  

Tenang Dalam Setiap Masalah

Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar

Saudaraku yang baik, ketenangan menjadi sesuatu yang dibutuhkan setiap orang. Terutama ketika sedang menghadapi masalah atau saat hendak mengambil keputusan. Orang yang tenang tidak pernah galau, panik tergesa-gesa, tidak emosional, tidak overacting. Orang tenang akan bisa menerima informasi lebih banyak, hingga dia bisa lebih memahami. Sedangkan orang yang emosional pendek kemampuan memahaminya, akibatnya kalau merespon akan tidak bagus karena keterbatasan pemahamannya.

Ketenangan pun akan membawa kewibawaan, atau karisma tersendiri bagi pemiliknya. Ia akan disegani oleh teman dan lingkungannya. Sebaliknya, orang yang overacting tidak akan memiliki kharisma. Terutama, kepada para calon pemimpin dalam skala apapun, ia harus berlatih mengendalikan diri, tetap tenang dalam kondisi bagaimanapun sulitnya. Dan, tenang bukan berarti lamban. Nabi Muhammad SAW adalah manusia paling tenang, tetapi berjalannya sangat gesit. Karena ketenangan tidak ada kaitannya dengan waktu, melainkan dengan pengendalian diri, artinya dia tetap gesit, tangkas tidak ada gurau berlebih, atau berteriak-teriak. Pribadi yang kalem senyum berukir jernih, tidak pula banyak bicara kalau memang tidak perlu bicara. Akibatnya, orang yang tenang mendapat ilmu yang lebih banyak, mendapatkan kemampuan memilih keputusan lebih baik.

Namun, ketenangan harus diupayakan agar tidak berujung menjadi sombong. Cirinya adalah ketika ia tidak peduli kepada orang lain. Dia diam tapi tidak mau mendengarkan. Malah mungkin asyik melakukan kegiatan yang lain (saat orang lain berbicara padanya). Atau, ada orang yang diam karena dia tengah memikirkan bantahan kepada orang lain, bukannya mengemas manfaat dari pembicaraan yang didengarnya.

Sehingga, tenangya kita responsif, tidak justru pelit. Reponsif seseorang memang bisa dipengaruhi oleh banyaknya keinginan, demografi (asal tempat menetapnya), lingkungan, tekanan kesulitan. Namun itu bisa diubah kalau memang ingin berubah. Nabi Muhammad SAW sendiri tertawa bila orang lain tengah melucu. Demikian pula bagi seorang pemimpin, keputusan terbaik adalah ketika ia memang memiliki akses informasi lengkap. Makin lengkap informasi makin akurat keputusannya. Dan informasi itu sendiri tidak boleh diambil hanya dari satu pihak. Kita harus belajar dari kedua belah pihak, baru mengambil keputusan. Dan yang harus kita sadari adalah tidak ada keputusan tanpa resiko, semua keputusan ada resikonya. Kita hanya perlu menghitung resiko yang paling minimal. Wallahu a’lam.

AddThis Social Bookmark Button
Email this post


Design by Amanda @ Blogger Buster